Ekspedisi di Negeri Batu Akik

Duabelas pemuda, dengan wataknya masing-masing. Tergabung dalam satu tim ekspedisi. Berjalan tanpa henti sampai hasrat mereka terpenuhi. Tidak sulit, mereka terbiasa. Membagi tim dalam sebuah kelompok kecil untuk efisiensi. Sebab keberadaan mereka saat ekspedisi berbatas waktu.

Tim ENJ Malut dalam perjalanan balik ke pulau Bacan. (foto/lng)
Jalan kesana kemari bermodalkan pepatah lama, "malu bertanya sesat di jalan." Untungnya, mereka sudah tak punya "rasa malu". Sampai hitam dan putih menyertai keberangkatan mereka, beban perjalanan menjadi lebih ringan dari yang diperkirakan.

"Berat dipikul bersama, ringan dipikul bersama." Tak ada bedanya, itulah inti dari pola pikir mereka. Membangun kerjasama tidak lebih dari tiga hari. Namun, sekali lagi, itu bukanlah halangan. Mereka cepat berbaur, laiknya keluarga yang sudah ditakdirkan bersama.

Daratan dijelajahi, lautan diseberangi bahkan langit pun tak mampu jadi penghalang. Semua itu demi satu, demi cinta mereka terhadap bangsa, terhadap Indonesia.

Ekspedisi Nusantara Jaya 2016 Perintis Maluku Utara. 
Halmahera Selatan, 30 Oktober - 11 November 2016.

Aku Tertipu Belaimu

Siang hari menjelang sore. Semula tak bermaksud untuk jalan-jalan. Sampai mataku tertarik dengan sosok cantik yang datang dari arah depan.

Aneh, dia menatapku. Dengan sorot mata penuh makna. Dalam hati aku bertanya-tanya, "Ada apa gerangan. Apa niat terpendamnya? Sampai-sampai melihatku seakan menginginkan sesuatu."

Tiba-tiba, dalam langkah ringan, kakinya mulai menjelajahi setapak demi setapak jalan. Sangat meyakinkan. Menuju ke arahku. "Aku harus berbuat apa? Jangan sampai aku salah tingkah hanya karena wajahnya yang manis," bisikku dalam hati.

"Ah!" Dia menggerayangi kakiku tanpa bersuara sedikitpun. Entah maunya apa.
Menggunakan kepala, tangan, sampai kakinya, dieluskan ke bagian bawah tubuhku yang sejak dia datang, reflek duduk.

Sensasi yang jarang kunikmati. Sensasi belaian kucing lapar yang pandai memelas ini. Sungguh, beberapa tahun kebelakang ini, aku sendiri jarang dibelai kucing. Dirimulah kucing pertama yang berdamai denganku.

Sayangnya, aku terlalu lama menyadari setelah kejadian itu, bahwa kau lelaki. Kucing jantan yang menyamar. Aku tertipu.

Anak Kampoeng, Sebuah Cita-cita Membangun Bangsa

Kata orang, Indonesia adalah bangsa yang besar. Ditakdirkan memiliki kekayaan alam, lautan yang luas, pulau yang berjejeran, serta manusia yang tidak sedikit nan beragam. Masalahnya, masih belum ataupun masih sedikit orang yang mampu mengolah kekayaan tersebut.

Orang yang dimaksud tidak melulu berasal dari para pemimpin negeri. Ataulah yang berasal dari kaum elit negeri. Mengolahnya pun tak melulu soal kekayaan alam, membangun sumber daya manusia juga sangat penting.

Era anak daerah menginvasi kota boleh jadi sebuah pertanda. Keberhasilan mereka adalah contoh bangunan yang benar. Dibangun dari fondasi yang kokoh. Tak sedikit dari mereka bahkan memulai dari usia muda.

Keberhasilan seperti ini harusnya dapat  terus dijaga keberlangsungannya. Pertanyaannya, dengan cara seperti apa? Salah satu jalannya yaitu tetap melibatkan pendidikan serta  didukung dengan dorongan aktif para pemuda. Kuno memang, tapi paling efektif sejauh ini dan sudah terbukti.

Para pemuda bisa turut berpartisipasi mendukung peningkatan kemajuan pendidikan. Berkaca dari beberapa organisasi tenar yang berhasil melibatkan banyak pemuda dengan turut serta menyebarkan virus pendidikan, sudah pasti pemuda tetap menjadi sebuah acuan.

Semuanya bisa kita mulai dari hulunya. Dari daerah pemuda berasal. Dari kampung yang ia tempati, bahkan dari rumah yang dia tinggali. Konsepnya, seorang ataupun sekelompok pemuda dari satu kampung yang sama, membagi ilmu mereka untuk masyarakat di wilayahnya.

Kegiatan ini, saya istilahkan "Anak Kampoeng" (baca: anak kampung atau anak kampong) dalam pengartian yang baik. Persis seperti kutipan familiar Abraham Lincoln, dari pemuda di kampung, oleh pemuda di kampung dan untuk masyarakat  di kampung. Sebuah cita-cita membangun bangsa bisa dimulai dari seorang anak kampung.

Status Tengah Malam

Catatan ini ditulis di malam hari dalam perjalanan ke Yogyakarta menggunakan kereta api. Sengaja saya luangkan waktu karena di atas gerbong berjalan ini, saya masih kesulitan untuk tidur.

Mengambil rute perjalanan Pasar Senen - Lempuyangan, satu hal yang bisa saya petik adalah carilah teman untuk pergi berdua.

Ngomong-ngomong soal teman. Saat sedang menggeser ke atas bawah 'BBM Feeds', ada suatu hal yang ganjil. Status BBM teman saya baru saja diperbarui, "Listening to 'Clarity' by Zedd". Clarity bisa berarti kejernihan, kemurnian ataupun kejelasan.

Itukan hal lumrah? Iya, memang tak jarang dia selalu memperbarui statusnya tiap tengah malam. Tapi, situasi sekarang berbeda sebab dia sudah tiada.

Mungkin keluarganya? Benar juga namun jika itu dipegang oleh pewaris telepon pintarnya, mengapa foto dan nama masih tetap sama? Mau menakut-nakuti orang? Kan bodoh. Atau lupa? Ya, kalau itu hanya tuhan dan penggunanya yang tahu.

Menyeramkan? Tidak seratus persen. Mungkin ada maksud di balik semua ini. Sengaja agar kita ingat dengannya. Apalagi buat saya pribadi, membalas obrolannya tiap tengah malam pernah jadi kebiasaan.