| Sambutan dari warga Desa Kakupang. (foto/lng) |
Disambut dengan Senyuman
Berjuang Melawan Ombak
| Kapal cepat, sarana transportasi yang digunakan tim ekspedisi menuju Desa Kakupang. (foto/lng) |
| Suasana didalam kapal cepat. (foto/lng) |
Ekspedisi di Negeri Batu Akik
| Tim ENJ Malut dalam perjalanan balik ke pulau Bacan. (foto/lng) |
"Berat dipikul bersama, ringan dipikul bersama." Tak ada bedanya, itulah inti dari pola pikir mereka. Membangun kerjasama tidak lebih dari tiga hari. Namun, sekali lagi, itu bukanlah halangan. Mereka cepat berbaur, laiknya keluarga yang sudah ditakdirkan bersama.
Daratan dijelajahi, lautan diseberangi bahkan langit pun tak mampu jadi penghalang. Semua itu demi satu, demi cinta mereka terhadap bangsa, terhadap Indonesia.
Aku Tertipu Belaimu
Siang hari menjelang sore. Semula tak bermaksud untuk jalan-jalan. Sampai mataku tertarik dengan sosok cantik yang datang dari arah depan.
Aneh, dia menatapku. Dengan sorot mata penuh makna. Dalam hati aku bertanya-tanya, "Ada apa gerangan. Apa niat terpendamnya? Sampai-sampai melihatku seakan menginginkan sesuatu."
Tiba-tiba, dalam langkah ringan, kakinya mulai menjelajahi setapak demi setapak jalan. Sangat meyakinkan. Menuju ke arahku. "Aku harus berbuat apa? Jangan sampai aku salah tingkah hanya karena wajahnya yang manis," bisikku dalam hati.
"Ah!" Dia menggerayangi kakiku tanpa bersuara sedikitpun. Entah maunya apa.
Menggunakan kepala, tangan, sampai kakinya, dieluskan ke bagian bawah tubuhku yang sejak dia datang, reflek duduk.
Sensasi yang jarang kunikmati. Sensasi belaian kucing lapar yang pandai memelas ini. Sungguh, beberapa tahun kebelakang ini, aku sendiri jarang dibelai kucing. Dirimulah kucing pertama yang berdamai denganku.
Sayangnya, aku terlalu lama menyadari setelah kejadian itu, bahwa kau lelaki. Kucing jantan yang menyamar. Aku tertipu.