Kiapa Lapis Tidore Itu Dia Enak?

“Bikiapa kong kui lapis Tidore ini dia enak?”

Tara tau bikapa kong bisa bafikir bagitu. Tapi pertanyaan itu dia muncul saja pas ada makang kui ini.

Pas itu malam-malam. So jam dua lewat. Puru so babunyi kong kita tes cek kulkas. Lia di atas deng bawa ternyata cuman ada dos isi kui dari ba tahlil tadi.

Sebenarnya kita pe kui ni su makang, cuman kebetulan lapar jadi kita rencana mo ambe kui satu saja. Biar jang kantara. Ha, diantara kui-kui itu ada kui lapis tidore. Itu me dia pe lapis sisa dua saja. Satu tu tra tau sapa so makang kamuka.

Tapi kui lapis tidore ini keliatang paleng menarik. Deng kalo kita ambe pasti so tra akang ada yang pusing beso. Dong mangkali tra tau lagi. Makanya kita ser lapis tidore ini.

“Kong hubungan deng pertanyaan di atas apa?”

Sebenarnya tra ada dia pehubungan. Kita hanya mo kase tau saja. Kalo lapis tidore yang so dinging kanal kulkas tu dia enak. Apalagi kong lapar. Dapa gratis lagi.

Cobaan untuk Mama Muda

Kasian Ibu kucing. Hari ini ia baru saja kehilangan anak-anaknya. Saat tidur pun bahkan terbawa mimpi.

Mungkin dia merasa gagal. Atau dia kesepian. Rindu kali ya? Bisa jadi. Maklum, malam sebelumnya ia masih sibuk menghangatkan anak-anaknya. Ia masih menetek anaknya.

Kesedihannya tergambar jelas di matanya. Meski dia tak dapat bicara. Tapi setiap manusia yang lewat pasti akan berkata sama. Tubuhnya pun lunglai. Padahal untuk seumuran kucing pada umumnya, barangkali ia tergolong mama muda.

Namanya juga ujian. Siapa coba yang tau nasibnya bisa  jadi begini. Sabar ya Bu kucing. Cobaan ini emang berat. Allah sudah atur semuanya. Siapa tau ada balasan yang lebih baik dikemudian hari buat kamu. Yang tabah. Semangat Bu!

Kala Kecoa Tak Lagi Bernapas

Malam itu. Masih segar dalam ingatanku. Saat sosok mahluk kecil bersayap lalu lalang di antara gerak kakiku. Sangat cepat. Iya, emang cuman sebentar. Saat mata ini menyadari keberadaanya.

Aku sendiri pasrah. Sudah sangat pasrah. Tak tau apa yang harus kuperbuat saat itu. Kala kecoa tak lagi bernapas. Ketika kaki tak mampu melihat. Inikah jalan hidup kita?

Memori Singkat Penuh Kesan di Marikapal

Akhir kisah kami, para relawan tim Ekspedisi Nusantara Jaya 2016 Perintis Maluku Utara di Pulau Kasiruta. Negeri di selatan Maluku Utara yang terkenal dengan batu akiknya. (Bagian Terakhir)

Desa Marikapal berbeda dengan Kakupang. Meski daerahnya lebih luas, populasi di sini tidak begitu banyak. Daerah ini juga belum disentuh teknologi komunikasi. Sebab, butuh usaha ekstra agar dapat menelepon.

Namun, pengalaman selama lima hari tinggal - terhitung sejak pertama datang sampai balik ke Pulau Bacan, tak kalah berkesannya. Program yang kami bawa pun berjalan cukup sukses.

Bahkan di malam terakhir di desa, Tim Ekspedisi menyelenggarakan pentas seni. Ini adalah salah satu kegiatan yang paling menyita perhatian masyarakat desa selain lomba cerdas cermat di malam sebelumnya.

Pentas seni di buka dengan arak-arakan obor keliling desa sebagai peringatan hari pahlawan yang bertepatan dengan diadakan pentas seni. Tidak hanya masyarat, kami ikut membaur dan berpartisipasi di pentas seni.

Memori Singkat Penuh Kesan di Marikapal
Suasana pawai obor di malam hari pahlawan di Desa Marikapal. (foto/lng)
Malam pentas seni sekaligus jadi malam perpisahan. Sungguh sebuah memori yang singkat namun sangat berkesan bagi kami di Desa Marikapal.

Pagi hari kita langsung bergegas kembali ke Labuha menggunakan perahu cepat milik warga desa. Tidak sampai 3 jam, perahu sudah sandar di dermaga. Dan bersiap untuk melanjutkan perjalan ke Kota Ternate di malam hari.

Senyum yang Sama

Ini lanjutan kisah kami, para relawan tim Ekspedisi Nusantara Jaya 2016 Perintis Maluku Utara di Pulau Kasiruta. Negeri di selatan Maluku Utara yang terkenal dengan batu akiknya. (Bagian Keempat)

Marikapal, desa tujuan selanjutnya. Jalur laut masih menjadi satu-satunya penghubung dengan Desa Kakupang. Jadi, tidak ada pilihan lain selain menggunakan perahu cepat.

Agak miris memang, padahal keduanya masih dalam satu pulau yang sama. Untungnya, warga Kakupang berbaik hati bersedia menghantar kami beserta logistik selama menetap di desa Marikapal.

Selama perjalanan kami disuguhi pemandangan lereng-lereng tebing, jernihnya air laut serta jejeran pantai pasir putih dan pulau-pulau kecil nan indah. Cuaca pun tidak terlalu buruk. Meski terkadang sedikit gelombang kecil menghentak perahu.

Sesampai di desa, warga terlihat sangat terbuka menyambut datangannya kami. Seperti kejadian yang terulang kembali. Dengan senyum yang sama, senyum yang mengingatkan kami dengan desa sebelumnya. Senyum yang kami takutkan akan membawa kesedihan ketika berpisah nanti.

Memori Lima Hari

Ini kisah kami, para relawan tim Ekspedisi Nusantara Jaya 2016 Perintis Maluku Utara di Pulau Kasiruta. Negeri di selatan Maluku Utara yang terkenal dengan batu akiknya. (Bagian Ketiga)

Senin. Tak terasa hari ini menjadi hari terakhir kami di Kakupang, setelah enam hari bersama warga desa menjalankan program-program kami. Mulai dari sektor pendidikan, lingkungan, ekonomi sampai kesehatan.

Foto bersama warga Kakupang, saat tim menuju desa berikutnya. (foto/lng)
Sedikit kilas balik beberapa hari sebelumnya. Kegiatan pertama yang kami lakukan esok hari setelah malam berlalu adalah kegiatan bersih lingkungan. Kebetulan bertepatan dengan hari Jum'at, maka kegiatan ini dinamakan Jum'at bersih. Di mulai dari ujung belakang sampai ke dermaga, warga bergotong royong membersihkan desa. Malamnya tim berkesempatan menyalurkan sembako hasil kerjasama dengan pemerintah daerah.

Besoknya dilanjutkan dengan kegiatan bersih-bersih serta menaman pohon di area sekitar sekolah. Bibit-bibit pohon ini kami datangkan langsung dari Ternate serta sebagian dibawa dari Labuha. Usai menanam, para siswa diajarkan baris berbaris. Tak sampai disitu, kegiatan dilanjutkan dengan menggambar, mewarnai serta tidak ketinggalan  menyanyikan lagu-lagu nasional dan daerah.

Menanam pohon, salah satu program bidang lingkungan. (foto/lng)
Malam hari jadi yang paling menegangkan bagi adik-adik yang masih duduk di bangku sekolah dasar. Bahkan para orangtua pun tak kalah tegangnya. Namun, suasana langsung mencair setelah lomba cerdas cermat berlangsung. Ini semua akibat ulah dari anak-anak peserta lomba yang terkadang memancing gelak tawa penonton.

Minggu. Hari ini jadi harinya bidang kesehatan. Dari pagi sampai siang hari, mulai dari pemberian gizi, demonstrasi hidup bersih dan sehat serta mengajarkan cara menggosok gigi yang baik dan benar sampai pemeriksaan gratis di pos kesehatan setempat bagi warga desa.

Kesannya, hari-hari kami hanya dihabiskan untuk menjalankan program. Bahkan sampai hari terakhir pun masih sibuk mengajar di sekolah. Tapi sebenarnya waktu kami bukan melulu untuk bekerja. Kami pun sempat bertamasnya dengan siswa sekolah dasar dan warga desa ke pulau pasir putih Babating. Salah satu potensi wisata yang harusnya bisa dikelola dengan baik.

Kecerian bersama murid SD Marakoko dan warga Kakupang di Pulau Babating. (foto/lng)
Selain itu, kami juga sempat main-main ke air terjun dan juga mendayung sampan ke pulau Gura ma Ngofa yang lokasinya persis di depan desa. Berenang di sekitar dermaga, serta memancing di belakang rumah.

Begitulah sedikit cerita singkat kami di Desa Kakupang. Memori indah dalam ekspedisi terukir lima hari disini. Warga yang santun, anak-anak yang penuh keceriaan, mewarnai hari-hari kami. Terimakasih Kakupang.

Disambut dengan Senyuman

Lanjutan kisah kami, para relawan tim Ekspedisi Nusantara Jaya 2016 Perintis Maluku Utara di Pulau Kasiruta. Negeri di selatan Maluku Utara yang terkenal dengan batu akiknya. (Bagian Kedua)

Setelah dua jam menempuh perjalan laut, akhirnya nafas kembali lega. Senyum mulai terkembang. Meski fokus masih melayang, efek mabuk laut.

Semua itu sirna setelah langkah-langkah kaki menyentuh dermaga Desa Kakupang. Desa tujuan pertama kami dari dua desa di Pulau Kasiruta. Masyarakat berkumpul menyambut kedatangan kami. Dari anak-anak sampai manula memadati dermaga dengan jembatan sepanjang 200 meter itu.

Sambutan dari warga Desa Kakupang. (foto/lng)
Dalam hati, saya masih tak percaya disambut oleh masyarakat seramai ini yang bahkan secara sukarela mengangkut barang bawaan kami dengan senyuman. Seakan kami adalah bagian dari warga desa. Kesan yang luar biasa.

Di Desa ini, kami dipersilahkan tinggal di balai desa sementara. Rumah dari saudara Bapak Sekretaris Desa. Selanjutnya tempat ini jadi Sekretariat sementara tim ENJ 2016 Perintis Maluku Utara.

Malam, masih di hari yang sama. Ada istilah "tak kenal maka tak sayang," untuk itulah malam kala itu jadi hari kami memperkenalkan diri. Bukan sebatas kami secara pribadi namun juga apa yang kami bawa, program-program apa saja yang kami berikan untuk warga desa. Seperti itulah hari pertama di desa berakhir.

Berjuang Melawan Ombak

Ini adalah kisah kami, relawan tim Ekspedisi Nusantara Jaya 2016 Perintis Maluku Utara di Pulau Kasiruta. Negeri di Selatan Maluku Utara yang terkenal dengan batu akiknya. (Bagian kesatu)

Hari pertama. Seingat saya, cuaca saat itu tampak cerah seperti biasanya saat perahu cepat kami akan lepas dari dermaga. Laut pun terkesan tenang. Tak terlihat seperti akan ada ombak yang terus menerus menerjang kami selama dua jam perjalanan menuju desa.

Kapal cepat, sarana transportasi yang digunakan tim ekspedisi menuju Desa Kakupang. (foto/lng)
Seperempat perjalanan, situasi masih terkendali. Semangat para relawan tim Ekspedisi Nusantara Jaya perintis Maluku Utara pun tetap berapi-api. Terbukti nyanyian dari kedua sisi bangku perahu bahkan melebihi gempuran derasnya suara ombak.

Suasana didalam kapal cepat. (foto/lng)
Semua berubah setelah lewat setengah perjalanan. Keadaan tak lagi dapat dibohongi. Suara nyayian berganti rengekan. Sebagian dari kami bahkan tak mampu menahan rasa mual. Gelombang Laut Maluku memang tanpa ampun. Sensasi menunggangi ombak kali ini, jadi pengalaman buat kami.

Ekspedisi di Negeri Batu Akik

Duabelas pemuda, dengan wataknya masing-masing. Tergabung dalam satu tim ekspedisi. Berjalan tanpa henti sampai hasrat mereka terpenuhi. Tidak sulit, mereka terbiasa. Membagi tim dalam sebuah kelompok kecil untuk efisiensi. Sebab keberadaan mereka saat ekspedisi berbatas waktu.

Tim ENJ Malut dalam perjalanan balik ke pulau Bacan. (foto/lng)
Jalan kesana kemari bermodalkan pepatah lama, "malu bertanya sesat di jalan." Untungnya, mereka sudah tak punya "rasa malu". Sampai hitam dan putih menyertai keberangkatan mereka, beban perjalanan menjadi lebih ringan dari yang diperkirakan.

"Berat dipikul bersama, ringan dipikul bersama." Tak ada bedanya, itulah inti dari pola pikir mereka. Membangun kerjasama tidak lebih dari tiga hari. Namun, sekali lagi, itu bukanlah halangan. Mereka cepat berbaur, laiknya keluarga yang sudah ditakdirkan bersama.

Daratan dijelajahi, lautan diseberangi bahkan langit pun tak mampu jadi penghalang. Semua itu demi satu, demi cinta mereka terhadap bangsa, terhadap Indonesia.

Ekspedisi Nusantara Jaya 2016 Perintis Maluku Utara. 
Halmahera Selatan, 30 Oktober - 11 November 2016.

Aku Tertipu Belaimu

Siang hari menjelang sore. Semula tak bermaksud untuk jalan-jalan. Sampai mataku tertarik dengan sosok cantik yang datang dari arah depan.

Aneh, dia menatapku. Dengan sorot mata penuh makna. Dalam hati aku bertanya-tanya, "Ada apa gerangan. Apa niat terpendamnya? Sampai-sampai melihatku seakan menginginkan sesuatu."

Tiba-tiba, dalam langkah ringan, kakinya mulai menjelajahi setapak demi setapak jalan. Sangat meyakinkan. Menuju ke arahku. "Aku harus berbuat apa? Jangan sampai aku salah tingkah hanya karena wajahnya yang manis," bisikku dalam hati.

"Ah!" Dia menggerayangi kakiku tanpa bersuara sedikitpun. Entah maunya apa.
Menggunakan kepala, tangan, sampai kakinya, dieluskan ke bagian bawah tubuhku yang sejak dia datang, reflek duduk.

Sensasi yang jarang kunikmati. Sensasi belaian kucing lapar yang pandai memelas ini. Sungguh, beberapa tahun kebelakang ini, aku sendiri jarang dibelai kucing. Dirimulah kucing pertama yang berdamai denganku.

Sayangnya, aku terlalu lama menyadari setelah kejadian itu, bahwa kau lelaki. Kucing jantan yang menyamar. Aku tertipu.

Anak Kampoeng, Sebuah Cita-cita Membangun Bangsa

Kata orang, Indonesia adalah bangsa yang besar. Ditakdirkan memiliki kekayaan alam, lautan yang luas, pulau yang berjejeran, serta manusia yang tidak sedikit nan beragam. Masalahnya, masih belum ataupun masih sedikit orang yang mampu mengolah kekayaan tersebut.

Orang yang dimaksud tidak melulu berasal dari para pemimpin negeri. Ataulah yang berasal dari kaum elit negeri. Mengolahnya pun tak melulu soal kekayaan alam, membangun sumber daya manusia juga sangat penting.

Era anak daerah menginvasi kota boleh jadi sebuah pertanda. Keberhasilan mereka adalah contoh bangunan yang benar. Dibangun dari fondasi yang kokoh. Tak sedikit dari mereka bahkan memulai dari usia muda.

Keberhasilan seperti ini harusnya dapat  terus dijaga keberlangsungannya. Pertanyaannya, dengan cara seperti apa? Salah satu jalannya yaitu tetap melibatkan pendidikan serta  didukung dengan dorongan aktif para pemuda. Kuno memang, tapi paling efektif sejauh ini dan sudah terbukti.

Para pemuda bisa turut berpartisipasi mendukung peningkatan kemajuan pendidikan. Berkaca dari beberapa organisasi tenar yang berhasil melibatkan banyak pemuda dengan turut serta menyebarkan virus pendidikan, sudah pasti pemuda tetap menjadi sebuah acuan.

Semuanya bisa kita mulai dari hulunya. Dari daerah pemuda berasal. Dari kampung yang ia tempati, bahkan dari rumah yang dia tinggali. Konsepnya, seorang ataupun sekelompok pemuda dari satu kampung yang sama, membagi ilmu mereka untuk masyarakat di wilayahnya.

Kegiatan ini, saya istilahkan "Anak Kampoeng" (baca: anak kampung atau anak kampong) dalam pengartian yang baik. Persis seperti kutipan familiar Abraham Lincoln, dari pemuda di kampung, oleh pemuda di kampung dan untuk masyarakat  di kampung. Sebuah cita-cita membangun bangsa bisa dimulai dari seorang anak kampung.

Status Tengah Malam

Catatan ini ditulis di malam hari dalam perjalanan ke Yogyakarta menggunakan kereta api. Sengaja saya luangkan waktu karena di atas gerbong berjalan ini, saya masih kesulitan untuk tidur.

Mengambil rute perjalanan Pasar Senen - Lempuyangan, satu hal yang bisa saya petik adalah carilah teman untuk pergi berdua.

Ngomong-ngomong soal teman. Saat sedang menggeser ke atas bawah 'BBM Feeds', ada suatu hal yang ganjil. Status BBM teman saya baru saja diperbarui, "Listening to 'Clarity' by Zedd". Clarity bisa berarti kejernihan, kemurnian ataupun kejelasan.

Itukan hal lumrah? Iya, memang tak jarang dia selalu memperbarui statusnya tiap tengah malam. Tapi, situasi sekarang berbeda sebab dia sudah tiada.

Mungkin keluarganya? Benar juga namun jika itu dipegang oleh pewaris telepon pintarnya, mengapa foto dan nama masih tetap sama? Mau menakut-nakuti orang? Kan bodoh. Atau lupa? Ya, kalau itu hanya tuhan dan penggunanya yang tahu.

Menyeramkan? Tidak seratus persen. Mungkin ada maksud di balik semua ini. Sengaja agar kita ingat dengannya. Apalagi buat saya pribadi, membalas obrolannya tiap tengah malam pernah jadi kebiasaan.

Parigi Moutong, Nama Keluarga Kami!

Parimo, Parimo, Parimou, singkatan nama dari salah satu kabupaten di Provinsi Sulawesi Selatan, Parigi Moutong, lokasi acara puncak dari Sail Tomini 2015 digelar.

Istimewa? Benar, sangat istimewa utamanya bagi kelompok 1 peserta KPN/LNRPB 2015 yang menggunakan nama daerah tersebut.

Sebuah kebanggan bagi kami, sekumpulan peserta serta pendamping yang melebur dalam sebuah keluarga besar bernama Parigi Moutong alias Parimou. Nama yang akan selalu dikenang oleh banyak orang, baik itu masyarakat, pemerintah dan kami khususnya.

"Pam pam, param pam pam, parimou,
pam pam, param pam pam, parimou,
pam pam, param pam pam, parimou,
Ha!!!"

Fenomena Si Cantik dan Si Jelek

Akhir-akhir ini, fenomena si Cantik dan si Jelek atau dalam bahasa kerennya, Beauty and The Beast, sedikit menggelitik pikiran saya. Meski bukan lagi hal tabu, namun itulah yang membuat saya tersadar akan sesuatu.

Saya (termasuk) jadi orang yang sangat bersyukur. Apalagi melihat banyak pasangan harmonis memadu kasih, meski dari segi fisik, utamanya wajah, timpang bagai bumi dan langit.

Karena Tuhan memang adil, si Cantik jelita masih dijodohkan dengan si Jelek. Itu artinya, saya masih bisa berharap, walaupun landasannya belum terlalu kuat dan hanya berdasar observasi serta ke-khilaf-an semata. Bidadari dunia macam Raisa atau Naomi dan Ve JKT48 pun punya peluang yang sama untuk saya dekati. Anin! eh salah, maksudnya Amin!

Blog untuk Idola

Yuhu~

Balik lagi bersama saya. Mungkin ini adalah posting terakhir sebelum menutup tahun. Soalnya tinggal beberapa jam lagi pergantian tahun menuju ke 2015.

Hari berlalu dengan cepat. Blog yang saya urus sendiri pun bertambah. Salah satunya HALLO x JKT48. Blog yang didedikasikan khusus bagi sesama penggemar dan juga kepada idola.

Karena untuk sekarang, hanya ini yang bisa saya diberikan. Dengan harapan akan keberadaan mereka bisa didengungkan ke lebih banyak orang lagi.

Jadi, mohon bantuannya. Semoga tulisan saya bisa diterima.

Dilema Tidur Siang

Sejatinya tidur siang adalah mengistirahatkan badan dan otak. Tapi apa jadinya jika tidur sianglah penyebab bangun kesiangan?

Berangkat dari pengalaman pribadi saya, saat memutuskan untuk tidur di siang hari, ada resiko yang harus diambil yaitu bangun kesiangan. Pernahkah kalian merasakan hal ini, "tidur siang yang nyeyak, baik disengaja atau tidak. Malamnya gelisah, sulit tidur?"

Bila pernah, mungkin masalah kita sama. Tidur siang yang sangat nyenyak buat saya pribadi, malah punya efek samping. "Malam sulit tidur, pagi gagal bangun". Mengapa bisa demikian?

Entahlah, konsultasikan saja dengan dokter kalian. Jika sudah dapat penyebab dan cara mengatasinya, hubungilah saya. Tolong dibagi saran dari dokter tersebut, biar hemat dan tidak menimbulkan dilema baru buat saya.

Keterangan: posting ini ditulis dihari dimana siangnya saya tidur dan malamnya gagal.

Selasa Depan

"Saat dia telah berseru, maka hari yang dinanti akan datang."

Kabar gembira. Setelah sebulan penuh, akhirnya hari itu akan datang. Saat dosen pembimbing sudah seiya sekata, halaman persetujuan sudah tertanda. Akhirnya, akan naik juga. Meski hati "dugdag", tetap harus siap. Siap menerima cecaran dengan mental kacang ini.

Hari selasa minggu depan (9/12) semoga terlaksana. Sekali lagi, seperti postingan saya terdahulu, mohon doa semoga semuanya berjalan lancar. Amin.

Tertanda, yang sedang sakit kepala, memikirkan lebih dari 100 lembar dokumen hasil yang harus dicetak enam rangkap. -akbar

Desember, Akhir...?

Selamat datang Desember, bulan terakhir di tahun 2014.

Waktu berlalu begitu cepat. Apa harapan kalian sudah ada yang tercapai? Baguslah kalau ada. Yang belum sempat didoakan supaya sempat sebelum tahun berakhir. Begitu juga dengan saya, mohon doanya, semoga harapan saya menutup tahun ini masih bisa tercapai. Harapan agar biaa lulus kuliah. Amin.

Sampai sekarang, sudah hampir setengah jalan. Semoga di awal bulan ini bisa seminar hasil penelitian dan sukses. Jika benar, artinya tinggal setengah jalan lagi. Dan harus dikejar. 

"Mengapa?"

Waktu berjalan, kita berlari. Akibat dari menganggap remeh waktu jadilah ketinggalan. Target awal melenceng jauh, air sudah lewat hidung. Malas tingkat tinggi dibayar rasa was-was.

Sekali lagi, doakan! Semoga bulan Desember jadi bulan terakhir kuliah. Semoga bisa lulus, amin.

Salah Kapten?

Perjuangan timnas Indonesia di ajang piala AFF harus berakhir cepat, melenceng dari target semula. Padahal sebelumnya, PSSI sebagai badan tertinggi yang pengelola sepakbola Indonesia, memberi target juara. 

Skuad yang diboyong pelatih Riedl kali ini, tidak mampu berbicara banyak ketika berhadapan dengan tuan rumah Vietnam dan saat babak belur diberondong 4 gol oleh Filipina. Tidak terkecuali, saat membantai Laos, permainan Indonesia sangat buruk dan cenderung memainkan sepakbola negatif. Dari ketiga laga tersebut, Indonesia bahkan tidak pernah sekalipun menguasai permainan, kerjasama tim buruk, selalu kehilangan bola, umpan tidak akurat, dan beberapa catatan lainnya.

Dilihat dari segi individu pemain, ada beberapa pemain yang tidak bermain baik tapi selalu dipercaya pelatih. Sebut saja, Zulkifli Sukur dan Ridwan. Kedua pemain tersebut seperti dianakemaskan. Bahkan Zulkifli sendiri, diberi tanggung jawab sebagai kapten tim saat Firman tidak bermain. 

Fokus kepada Zulkifli yang juga merupakan kapten Mitra Kukar, sekaligus salah seorang penampil terbanyak ditimnas. Performanya saat bertahan kadang membantu tim tapi lebih banyak malah menyusahkan tim. Lihat saja, berapa kali passing error serta seringnya dia  kehilangan bola. Selain itu, disaat membantu serangan, acap kali peluang menjadi sia-sia. Ditambah dengan permainan yang kurang kreatif, adalah rapot merah yang harus dibenahi olehnya dan tentunya punggawa Garuda lainnya.

Indonesia Babak Belur

Mengawali babak pertama, Indonesia masih memainkan pola yang sama seperti saat melawan Vietnam. Sedikit sentuhan dari pemain belakang kemudian umpan langsung kedepan.

Inilah yang namanya tak pernah belajar dari kesalahan masa lalu. Hasilnya, Filipina berhasil membuka gol lewat kesalahan backpass Roby, yang berbuah tendangan penalti. Penalti sendiri di eksekusi oleh Philip Younghusband. Sampai turun minum, Indonesia masih belum bisa menyakan kedudukan.

Indonesia memulai babak kedua dengan memasukkan Boaz menggantikan Ridwan. Alih-alih menyamakan kedudukan, sampai peluit akhir dibunyikan, Filipina-lah yang berhasil menambah 3 Gol lewat sumbangsih Manuel Ott melalui sepakan dari luar kotak penalti di menit ke 52, Steuble pada menit ke 68 serta Gier, 10 menit sebelum laga usai.

Kemenangan atas Indonesia, membawa Filipina ke puncak klasemen sementara grup A sekaligus mengantarkan ke fase semifinal. Kemenangan ini, juga menutup rekor tidak pernah menang Filipina atas Indonesia.